Selasa, 07 Februari 2012

NILAI AKHIR TEORI MEMBACA

Nilai Akhir Teori Membaca

dapat didownload di sini

Kelas A
Kelas B
Kelas C
Kelas D
Kelas E

Senin, 26 Desember 2011

TUGAS AKHIR TEORI MEMBACA SEMESTER 1


Petunjuk!

  1. bacalah salah satu cerpen berikut cerpen 1, cerpen 2, cerpen 3,  cerpen 4, cerpen 5, cerpen 6, cerpen 7, cerpen 8, cerpen 9, dan cerpen 10.
  2. pahamilah cerpen yang Saudara baca!
  3. Uraikan pemahaman literal, interpretasi, kritis, dan kreatif yang ada dalam cerpen yang Saudara baca.
  4. buatlah sebuah pengembangan pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan cerpen yang Saudara baca. Gunakanlah prosedur tahap prabaca, saat baca, dan pascabaca! (merujuk pada teori Burns)


petunjuk pengerjaan
. 


  1. diketik rapi dengan 2 spasi, times new roman 12.
  2. cantumkan cerpen berserta alamat website/blog yang Saudara kutip
  3. dikumpulkan 1 minggu setelah tugas diberikan
  4. apabila belum jelas silahkan komentar di bawah atau bisa email ke arul_klen84@yahoo.com

Selamat Mengerjakan

Selasa, 22 November 2011

MENGENAL KARYA ILMIAH DAN JENISNYA

MENGENAL KARYA ILMIAH DAN JENISNYA

Oleh: Dini Restiyanti Pratiwi

Tenaga Edukatif Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta


Selamat malam dan selamat berjumpa kembali dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia dalam Ruang Pelajar di Radio Republik Indonesia Surakarta bersama saya Dini Restiyanti Pratiwi dari Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Adik-adik pelajar yang budiman, materi yang akan saya sampaikan pada kesempatan malam ini mengenai ”Penulisan Karya Ilmiah”. Apakah Anda tertarik dengan kegiatan menulis karya ilmiah? dan Anda mengalami kesulitan?. Ikuti paparan saya dengan saksama.
Adik-adik pelajar yang budiman, sebagian pelajar beranggapan bahwa menyusun karya ilmiah dengan bahasa yang benar itu rumit dan menyusahkan. Sebagian dari mereka mengeluhkan setelah mendapat tugas untuk menyusun makalah atau karya ilmiah lainnya seakan-akan ”menyerah” sebelum ”bertempur”. Anggapan dan perasaan seperti itu terlalu berlebihan karena sebetulnya, menyusun karya ilmiah tidak jauh berbeda dengan menyusun karya yang lain, seperti karangan jurnalistik atau laporan perjalanan. Perbedaannya, dalam penyusunan karya ilmiah harus mengikuti metode ilmiah yang terdiri atas langkah-langkah untuk mengorganisasi dan mengatur gagasan melalui garis pemikiran yang konseptual dan prosedural yang disepakati oleh para ilmuwan. Jadi, siapapun akan dapat menyusun karya ilmiah asalkan mau mempelajari cara-caranya atau dibantu dengan bimbingan seseorang yang berpengalaman.
Adik-adik pelajar yang budiman, sebelum kita membicarakan bagaimana menulis karya ilmiah dengan baik, kita harus mengenal apa yang dimaksud karya ilmiah dan jenis-jenis dari karya ilmiah itu sendiri. Ada berbagai definisi yang ditulis para ilmuwan tentang karya ilmiah. Salah satu di antaranya dikemukakan oleh Brotowidjoyo (1985: 8-9) dalam bukunya yang berjudul ”Penulisan Karangan Ilmiah” menyatakan bahwa karya ilmiah adalah sebuah karya yang berisi karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang benar. Selain itu, dikatakan pula bahwa karya ilmiah harus ditulis secara jujur dan akurat berdasarkan kebenaran tanpa mengingat akibatnya (Arifin, 1998: 2). Kebenaran dalam karangan ilmiah adalah kebenaran yang objektif, positif, sesuai dengan data dan fakta di lapangan dan bukan kebenaran yang normatif.
Ada beberapa istilah dalam karya ilmiah yang biasa ditulis, di samping makalah dan skripsi, istilah karya ilmiah yang lain di antaranya kertas kerja, laporan penelitian, tesis, dan disertasi. Adik-adik pelajar yang budiman, perbedaan istilah-istilah karya ilmiah tersebut di antaranya Makalah, adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Artinya makalah menyajikan masalah melalui proses berpikir deduktif atau induktif. Makalah, biasanya disusun untuk melengkapi tugas-tugas ujian mata pelajaran atau mata kuliah tertentu untuk memberikan saran atau pemecahan suatu masalah secara ilmiah. Makalah, menggunakan bahasa yang lugas dan tegas. Jika dilihat dari bentuknya, makalah adalah bentuk yang paling sederhana di antara karya tulis ilmiah lainnya.
Kertas kerja, seperti halnya makalah, kertas kerja juga merupakan karya tulis ilmiah yang menyajikan sesuatu berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Analisis dalam kertas kerja lebih serius daripada analisis dalam makalah. Kertas kerja ditulis untuk disajikan dalam suatu seminar atau lokakarya. Berbeda lagi dengan skripsi, skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung maupun penelitian tidak langsung. Skripsi biasanya ditulis untuk melengkapi syarat guna memperoleh gelar sarjana muda/diploma atau sarjana yang penyusunannya dibimbing oleh tim dosen dalam suatu lembaga pendidikan tinggi.
Istilah karya ilmiah selanjutnya tesis adalah karya ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi. Tesis akan mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri. Karya tulis ini akan memperbincangkan pengujian terhadap satu hipotesis atau lebih dan ditulis oleh mahasiswa fakultas pascasarjana.
Adik-adik pelajar yang budiman, istilah karya tulis yang terakhir adalah disertasi. Disertasi merupakan karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih dengan analisis yang terinci. Dalil yang dikemukakan biasanya dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan-sanggahan senat guru besar/penguji suatu pendidikan tinggi. Disertasi ini berisi suatu temuan penulis sendiri yang bersifat orisinal. Jika temuan orisinal ini dapat dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan penguji, maka penulisnya berhak menyandang gelar doktor. Dari semua jenis karya tulis tersebut, hendaknya disusun secara cermat dan logis.
Adik-adik pelajar yang budiman, selain mengetahui istilah dalam karya tulis ilmiah kita juga perlu mengetahui jenis karya tulis ilmiah. Berikut ini akan saya paparkan beberapa jenis karya tulis ilmiah, Pertama, jenis karya tulis ilmiah hasil penelitian atau eksperimen. Karya tulis ilmiah jenis ini berisi hasil dari sebuah penelitian atau percobaan atau pengujian dengan perlakuan tertentu untuk mendapatkan fakta, pengertian, atau prinsip baru. Kedua, Karya tulis ilmiah yang berupa hasil survey. Karya tulis ilmiah ini berupa hasil pengamatan, pengumpulan, analisis, pemeriksaan data atau informasi atas berbagai gejala fisis dan sosial untuk mengetahui kondisi, situasi, bentuk, nilai, atau keterangan lain tentang sesuatu hal atau masalah. Ketiga, jenis karya tulis ilmiah tinjauan pustaka. Karya tulis jenis ini bersisi analisis berbagai data, kemudian informasi diperoleh dari berbagai sumber pustaka /referensi tentang sesuatu hal atau masalah untuk menetapkan atau mengevaluasi hasil penelitian tentang masalah yang diselidiki tersebut.
Keempat, karya tulis ilmiah rancang bangun. Karya tulis ilmiah ini merupakan kegiatan rancang bangun yang dianalisis mengikuti metode ilmiah dan nalar ilmiah dan teknologi untuk menciptakan, memodifikasi peralatan, instrumen, sistem, proses, atau prasarana. Kelima, karya tulis ilmiah bahasan teoritis. Karya tulis ilmiah ini dilakukan dengan pembahasan teoritis secara ilmiah tentang suatu hal atau masalah untuk meninjau atau mengupas berbagai aspek dari masalah tersebut. Keenam, jenis karya tulis ilmiah laporan teknis. Karya tulis ilmiah ini berisi laporan tentang data dan informasi teknis pelaksanaan suatu penelitian atau kegiatan rutin  yang terencana ataupun yang fenomenanya telah diketahui untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan kegiatan tersebut. Ketujuh, karya tulis ilmiah jenis ilmiah ringkas. Dalam karya tulis ilmiah ini laporan ilmiah ditulis secara ringkas, akan tetapi substansinya tetap utuh.
Adik-adik pelajar yang budiman, itulah tadi paparan saya mengenai istilah dan jenis dalam karya tulis ilmiah. Masih banyak hal yang harus kita kupas mengenai penulisan karya tulis ilmiah. Dalam pertemuan yang akan datang kita akan membicarakan tahap-tahap penyusunan karya ilmiah yang terdiri dari persiapan, pengumpulan data, pengorganisasian dan pengonsepan, pemeriksaan dan penyuntingan konsep, serta penyajian atau pengetikan.
Adik-adik pelajar yang budiman, demikianlah siaran Pembinaan Bahasa Indonesia lewat Radio Republik Indonesia Surakarta semoga bermanfaat bagi adik-adik pelajar dan pendengar sekalian. Selamat malam dan terimakasih.
Sumber
Arifin, Zaenal. 1998. Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grasindo
Brotowidjoyo, Mukayat. 1985. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Akademika Pressindo

Rochestry Sofyan ”Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah” (http://www.google.co.id/search?q=penulisan+karya+tulis+ilmiah&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a) (Senin, 15 Februari 2010, pukul 14.31)

STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK

STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK

Oleh: Dini Restiyanti Pratiwi

Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta


Selamat malam dan selamat  berjumpa kembali dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia dalam Ruang Pelajar di Radio Republik Indonesia Surakarta bersama saya Dini Restiyanti Pratiwi dari Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Adik-adik pelajar yang budiman, dalam pertemuan sebelumnya kita sudah membahas mengenai konsep menyimak yang hakikatnya berbeda dengan mendengar dan mendengarkan dan ciri ideal seorang penyimak. Setelah adik-adik memahami perbedaan antara menyimak, mendengar, dan mendengarkan dalam kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai strategi pembelajaran menyimak.
Adik-adik pelajar yang budiman, sebelum kita berbicara mengenai strategi pembelajaran menyimak, mari kita pahami tujuan dan proses dalam menyimak.  Ikuti paparan saya!
Adik-adik pelajar yang budiman, dalam menyimak pembicaraan tentu penyimak memiliki tujuan. Tujuan antara penyimak satu dengan penyimak lainnya tentulah beraneka ragam. Menurut Tarigan (2008: 60-61) tujuan seseorang menyimak, di antaranya (1) menyimak untuk belajar, menyimak dalam hal ini dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara, (2) menyimak untuk menikmati, biasanya kegiatan menyimak ini berlangsung pada bidang seni, contoh menyimak sebuah pementasan drama (3) menyimak untuk mengevaluasi, menyimak yang dilakukan dengan tujuan untuk menilai sesuatu yang disimak, (4) menyimak untuk mengapresiasi, biasanya berwujud menikmati dan menghargai sesuatu yang disimak, (5) menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide, gagasan, ataupun perasaan kepada orang lain dengan lancar dan tepat, dan (6) menyimak dengan tujuan untuk memecahkan masalah secara kreatif dan analisis.
Adik-adik pelajar yang budiman, selanjutnya proses yang terjadi selama seseorang melakukan kegiatan menyimak, yaitu (1) mendengar, dalam tahap ini penyimak baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara, (2) memahami, setelah dapat mendengar, maka ada keinginan penyimak untuk mengerti dan memahamidengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara, (3) menginterpretasi, penyimak yang baik, cermat, dan teliti belum merasa puas jika hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, sehingga penyimak akan menafsirkan atau menginterpretasikan pendapat yang tersirat dalam ujaran tersebut, (4) mengevaluasi, penyimak mulai menilai dan mengevaluasi pendapat atau gagasan pembicara mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara, dan (5) menanggapi, dalam hal ini penyimak menyambut, mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraanya.
Adik-adik pelajar yang budiman, seperti pembahasan kita yang sebelumnya bahwa kegiatan menyimak haruslah dikuasai terlebih dahulu sebelum anak dapat berbicara, membaca, dan menulis. Salah satu prinsip linguistic menyatakan bahwa bahasa itu pertama-tama diperoleh melalui ujaran, yakni bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan dan bias didengar. Atas dasar itulah beberapa ahli pengajaran bahasa menetapkan bahwa pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan aspek pendengaran dan ;engucapan sebelum membaca dan menulis.
Adik-adik pelajar yang budiman, agar pembelajaran menyimak memperoleh hasil yang baik, maka strategi pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi criteria sebagai berikut (1) relevan dengan tujuan pembelajaran, (2) menantang dan merangsang siswa untuk belajar, (3) mengembangkan kreativitas siswa secara individual maupun kelompok, (4) memudahkan siswa memahami materi pelajaran, (5) mengarahkan aktivitas belajar siswa pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, (6) mudah diterapkan dan tidak menuntut disediakannya peralatan yang rumit, dan (7) menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
Adik-adik pelajar yang budiman, berikut ini strategi sederhana yang cocok digunakan dalam pembelajaran menyimak.
1.    Simak-Ulang Ucap
Siswa harus menyimak apa yang diucapkan guru, setelah itu siswa harus mengucap ulang apa yang disimaknya. Model ucapan yang akan diperdengarkan harus diperdengarkan secara cermat oleh guru. Isi model ucapan dapat berupa fonem, kata, kalimat, ungkapan, kata-kata mutiara, peribahasa, dan puisi-puisi pendek. Model ini dapat diucapkan langsung atau direkam.
Contoh:
Guru    : menyatakan dengan ujaran “Transportasi”
Siswa   : menirukan dengan ujaran “Transportasi”
2.    Simak­-Tulis
Simak-tulis mirip dengan simak-ulang ucap. Siswa menyimak apa yang dikatakan guru atau dari rekaman, kemudian siswa harus menuliskannya. Bahan yang digunakan dalam simak-ulang ucap dapat juga digunakan dalam simak-tulis.
     Contoh            :
     Guru    : menyatakan dengan ujaran “Transportasi”
     Siswa   : menulis kata “Transportasi”
3.    Simak-Kerjakan
       Mula-mula siswa menyimak apa yang diperdengarkan guru, kemudian siswa mengerjakan apa yang telah diperintahkan atau dikatakan dalam kegitan menyimak tadi. Model yang digunakan biasanya berupa kalimat-kalimat perintah.
           
            Contoh            :
            Guru    : Buatlah lingkaran besar di  kertas persegi panjang
            Siswa   : mengerjakan membuat lingkaran besar di kertas persegi panjang
4.    Simak-Terka
       Guru menyusun deskripsi suatu benda tanpa menyebutkan nama benda tersebut, kemudian deskripsi diperdengarkan kepada siswa dan siswa menyimak teks deskripsi dan harus menerkanya.
            Contoh            :
            (benda yang dipilih guru adalah bola)
            Guru    : menyatakan bentukku bundar, dapat menggelinding, dapat dilempar  dan ditendang, aku berada di lapangan.
            Siswa   : menerka “Bola”
5.    Memperluas Kalimat
       Guru menyebutkan sebuah kalimat. Siswa mengucapkan kembali kalimat tersebut. Kembali guru mengucapkan kalimat tadi kemudian guru mengucapkan kata atau kelompok kata lain dan siswa melengkapi kalimat tadi sengan kelompok kata yang disebutkan terakhir oleh guru, maka hasilnya kalimat yang diperluas.
            Contoh            :
            Guru    : menyatakan “Ayah pergi”
            Siswa   : mengucapkan kembali “Ayah pergi”
            Guru    : mengulang kata yang tadi “Ayah pergi”
            Guru    : mengucapkan kelompok kata lain “Ke kantor”
            Siswa   : melengkapi “Ayah pergi ke kantor”
            Guru    : guru mengulang kata pertama diikuti kata kedua “Ayah pergi ke kantor”
            Guru    : mengucapkan kelompok kata lain “tadi pagi”
            Siswa   : mengulang kata pertama dan kedua dan diikuti kata terakhir yang diucapkan guru “Ayah pergi ke kantor tadi pagi”
6.    Menyelesaikan Cerita
       Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-4 orang kemudian guru memanggil kelompok pertama untuk maju dan diminta untuk bercerita dengan tema bebas. Setelah siswa pertama pada kelompok pertama selesai bercerita (seperempat dari cerita), maka siswa kedua dari kelompok pertama harus meneruskan cerita dari temannya tersebut begitu seterusnya hingga anggota kelompoknya selesai kebagian giliran. Siswa yang belum tiba giliran untuk bercerita tentu harus menyimak dengan baik, sebab ada kemungkinan giliran jatuh pada siswa yang tidak menyimak. Siswa harus siap meneruskan cerita.
7.    Membuat Rangkuman
       Siswa menyimak cerita atau teks nonsastra yang agak panjang setelah itu siswa diharuskan untuk membuat rangkuman dari apa yang telah disimaknya tadi. Apa yang disimak harus dirangkum sesingkat mungkin, tatapi yang singkat tersebut harus tetap menjelaskan yang panjang.
8.    Menemukan Benda
Guru mengumpulkan sejumlah benda. Benda-benda itu sebaiknya sudah dikenal oleh siswa. Benda-benda itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak terbuka. Kemudian guru menyebutkan nama sesuatu benda. Siswa mencari benda yang diucapkan guru. Bila sudah ditemukan, diperlihatkan kepada teman-temannya.
Contoh:
Guru      : “Andi ke sekolah membawa: buku, pensil warna hijau, kuning, dan merah, penghapus, penggaris, pensil, dan bolpoin hitam”.
Siswa     : (mengambil semua yang disebutkan guru)

Sumber:
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menyimak: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Template by:

Free Blog Templates