Selasa, 22 November 2011

STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK

STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK

Oleh: Dini Restiyanti Pratiwi

Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta


Selamat malam dan selamat  berjumpa kembali dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia dalam Ruang Pelajar di Radio Republik Indonesia Surakarta bersama saya Dini Restiyanti Pratiwi dari Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Adik-adik pelajar yang budiman, dalam pertemuan sebelumnya kita sudah membahas mengenai konsep menyimak yang hakikatnya berbeda dengan mendengar dan mendengarkan dan ciri ideal seorang penyimak. Setelah adik-adik memahami perbedaan antara menyimak, mendengar, dan mendengarkan dalam kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai strategi pembelajaran menyimak.
Adik-adik pelajar yang budiman, sebelum kita berbicara mengenai strategi pembelajaran menyimak, mari kita pahami tujuan dan proses dalam menyimak.  Ikuti paparan saya!
Adik-adik pelajar yang budiman, dalam menyimak pembicaraan tentu penyimak memiliki tujuan. Tujuan antara penyimak satu dengan penyimak lainnya tentulah beraneka ragam. Menurut Tarigan (2008: 60-61) tujuan seseorang menyimak, di antaranya (1) menyimak untuk belajar, menyimak dalam hal ini dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara, (2) menyimak untuk menikmati, biasanya kegiatan menyimak ini berlangsung pada bidang seni, contoh menyimak sebuah pementasan drama (3) menyimak untuk mengevaluasi, menyimak yang dilakukan dengan tujuan untuk menilai sesuatu yang disimak, (4) menyimak untuk mengapresiasi, biasanya berwujud menikmati dan menghargai sesuatu yang disimak, (5) menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide, gagasan, ataupun perasaan kepada orang lain dengan lancar dan tepat, dan (6) menyimak dengan tujuan untuk memecahkan masalah secara kreatif dan analisis.
Adik-adik pelajar yang budiman, selanjutnya proses yang terjadi selama seseorang melakukan kegiatan menyimak, yaitu (1) mendengar, dalam tahap ini penyimak baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara, (2) memahami, setelah dapat mendengar, maka ada keinginan penyimak untuk mengerti dan memahamidengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara, (3) menginterpretasi, penyimak yang baik, cermat, dan teliti belum merasa puas jika hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, sehingga penyimak akan menafsirkan atau menginterpretasikan pendapat yang tersirat dalam ujaran tersebut, (4) mengevaluasi, penyimak mulai menilai dan mengevaluasi pendapat atau gagasan pembicara mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara, dan (5) menanggapi, dalam hal ini penyimak menyambut, mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraanya.
Adik-adik pelajar yang budiman, seperti pembahasan kita yang sebelumnya bahwa kegiatan menyimak haruslah dikuasai terlebih dahulu sebelum anak dapat berbicara, membaca, dan menulis. Salah satu prinsip linguistic menyatakan bahwa bahasa itu pertama-tama diperoleh melalui ujaran, yakni bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan dan bias didengar. Atas dasar itulah beberapa ahli pengajaran bahasa menetapkan bahwa pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan aspek pendengaran dan ;engucapan sebelum membaca dan menulis.
Adik-adik pelajar yang budiman, agar pembelajaran menyimak memperoleh hasil yang baik, maka strategi pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi criteria sebagai berikut (1) relevan dengan tujuan pembelajaran, (2) menantang dan merangsang siswa untuk belajar, (3) mengembangkan kreativitas siswa secara individual maupun kelompok, (4) memudahkan siswa memahami materi pelajaran, (5) mengarahkan aktivitas belajar siswa pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, (6) mudah diterapkan dan tidak menuntut disediakannya peralatan yang rumit, dan (7) menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
Adik-adik pelajar yang budiman, berikut ini strategi sederhana yang cocok digunakan dalam pembelajaran menyimak.
1.    Simak-Ulang Ucap
Siswa harus menyimak apa yang diucapkan guru, setelah itu siswa harus mengucap ulang apa yang disimaknya. Model ucapan yang akan diperdengarkan harus diperdengarkan secara cermat oleh guru. Isi model ucapan dapat berupa fonem, kata, kalimat, ungkapan, kata-kata mutiara, peribahasa, dan puisi-puisi pendek. Model ini dapat diucapkan langsung atau direkam.
Contoh:
Guru    : menyatakan dengan ujaran “Transportasi”
Siswa   : menirukan dengan ujaran “Transportasi”
2.    Simak­-Tulis
Simak-tulis mirip dengan simak-ulang ucap. Siswa menyimak apa yang dikatakan guru atau dari rekaman, kemudian siswa harus menuliskannya. Bahan yang digunakan dalam simak-ulang ucap dapat juga digunakan dalam simak-tulis.
     Contoh            :
     Guru    : menyatakan dengan ujaran “Transportasi”
     Siswa   : menulis kata “Transportasi”
3.    Simak-Kerjakan
       Mula-mula siswa menyimak apa yang diperdengarkan guru, kemudian siswa mengerjakan apa yang telah diperintahkan atau dikatakan dalam kegitan menyimak tadi. Model yang digunakan biasanya berupa kalimat-kalimat perintah.
           
            Contoh            :
            Guru    : Buatlah lingkaran besar di  kertas persegi panjang
            Siswa   : mengerjakan membuat lingkaran besar di kertas persegi panjang
4.    Simak-Terka
       Guru menyusun deskripsi suatu benda tanpa menyebutkan nama benda tersebut, kemudian deskripsi diperdengarkan kepada siswa dan siswa menyimak teks deskripsi dan harus menerkanya.
            Contoh            :
            (benda yang dipilih guru adalah bola)
            Guru    : menyatakan bentukku bundar, dapat menggelinding, dapat dilempar  dan ditendang, aku berada di lapangan.
            Siswa   : menerka “Bola”
5.    Memperluas Kalimat
       Guru menyebutkan sebuah kalimat. Siswa mengucapkan kembali kalimat tersebut. Kembali guru mengucapkan kalimat tadi kemudian guru mengucapkan kata atau kelompok kata lain dan siswa melengkapi kalimat tadi sengan kelompok kata yang disebutkan terakhir oleh guru, maka hasilnya kalimat yang diperluas.
            Contoh            :
            Guru    : menyatakan “Ayah pergi”
            Siswa   : mengucapkan kembali “Ayah pergi”
            Guru    : mengulang kata yang tadi “Ayah pergi”
            Guru    : mengucapkan kelompok kata lain “Ke kantor”
            Siswa   : melengkapi “Ayah pergi ke kantor”
            Guru    : guru mengulang kata pertama diikuti kata kedua “Ayah pergi ke kantor”
            Guru    : mengucapkan kelompok kata lain “tadi pagi”
            Siswa   : mengulang kata pertama dan kedua dan diikuti kata terakhir yang diucapkan guru “Ayah pergi ke kantor tadi pagi”
6.    Menyelesaikan Cerita
       Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-4 orang kemudian guru memanggil kelompok pertama untuk maju dan diminta untuk bercerita dengan tema bebas. Setelah siswa pertama pada kelompok pertama selesai bercerita (seperempat dari cerita), maka siswa kedua dari kelompok pertama harus meneruskan cerita dari temannya tersebut begitu seterusnya hingga anggota kelompoknya selesai kebagian giliran. Siswa yang belum tiba giliran untuk bercerita tentu harus menyimak dengan baik, sebab ada kemungkinan giliran jatuh pada siswa yang tidak menyimak. Siswa harus siap meneruskan cerita.
7.    Membuat Rangkuman
       Siswa menyimak cerita atau teks nonsastra yang agak panjang setelah itu siswa diharuskan untuk membuat rangkuman dari apa yang telah disimaknya tadi. Apa yang disimak harus dirangkum sesingkat mungkin, tatapi yang singkat tersebut harus tetap menjelaskan yang panjang.
8.    Menemukan Benda
Guru mengumpulkan sejumlah benda. Benda-benda itu sebaiknya sudah dikenal oleh siswa. Benda-benda itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak terbuka. Kemudian guru menyebutkan nama sesuatu benda. Siswa mencari benda yang diucapkan guru. Bila sudah ditemukan, diperlihatkan kepada teman-temannya.
Contoh:
Guru      : “Andi ke sekolah membawa: buku, pensil warna hijau, kuning, dan merah, penghapus, penggaris, pensil, dan bolpoin hitam”.
Siswa     : (mengambil semua yang disebutkan guru)

Sumber:
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menyimak: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

0 comments:

Poskan Komentar

silahkan comment di sini

Template by:

Free Blog Templates